Selasa, 03 November 2009

103 Warga Kaltim Meninggal karena AIDS


SAMARINDA – Samarinda dan Balikpapan tampaknya menjadi kota tersubur menyebaran HIV/AIDS di Kaltim. Data yang dimiliki Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim menunjukkan, dari 194 penderita AIDS di Kaltim, tercatat 103 di antaranya meninggal dunia. Dari jumlah itu, Balikpapan ditasbihkan sebagai “pemecah rekor” terbanyak 44 warganya meninggal, disusul Samarinda 36 orang.

“Selain AIDS, di Kaltim sudah ditemukan 1.200 kasus HIV,” ungkap Wakil Gubernur Kaltim Farid Wadjdy saat membuka Rapat Koordinasi Program Terpadu Penanggulangan HIV/AIDS, Narkoba, TB-Paru, DBD, dan Zoonosis di Hotel Grand Sawit Samarinda, kemarin (7/10). Dari data tersebut, pengidap HIV terbesar ada di Samarinda dengan jumlah 471 orang (selengkapnya lihat tabel).

Menurut Farid Wadjdy, meningkatnya angka penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun di Kaltim seiring bertambahnya penyalahgunaan narkoba dengan jarum suntik. “Kaltim ranking 4 nasional untuk pengungkapan narkoba tahun 2006. Adapun tingkat kerawanan pengedar gelap narkoba tahun 2009, Kaltim berada di posisi 8 nasional,” sebut Farid.

Sebagai Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP) Kaltim, ia memproyeksikan pengguna narkoba 2004-2013 mencapai 61.841 orang. Khusus untuk kalangan pelajar, diestimasi sebanyak 37.804 siswa. “Ada korelasi antara narkoba dan AIDS. Sebab selain jarum suntik, faktor kedua meningkatkan jumlah HIV karena hubungan seksual di luar nikah,” lanjut mantan Kakandepag Kaltim itu.

Bahkan, menurut dia, penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia itu, sudah masuk ranah rumah tangga. Ini terjadi karena perilaku menyimpang salah satu pasangan dari suami-istri yang doyan “jajan” di luar nikah. “Yang kasihan itu biasanya istrinya. Tidak tahu apa-apa, tiba-tiba dibawakan “oleh-oleh” dari suaminya berupa penyakit. Itu akibat suami yang suka jajan,” seloroh Farid di depan wartawan.

Melihat grafik peningkatan HIV/AIDS, Wagub menyerukan penanganan terpadu dari semua pihak. Selain peningkatan moralitas masyarakat, kerja sama antarlintas instansi pemerintah tingkat pusat dan daerah, lembaga seperti Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), BNN, serta organisasi lainnya, perlu ditingkatkan. “Tahun ini kita anggarkan Rp 6 miliar,” ujarnya.

Sementara Kabid Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Diskes Kaltim Yurnanto mengatakan, berbagai hal telah dilakukan Diskes untuk menekan jumlah penderita HIV/AIDS. Mulai langkah preventif digalakkan dengan pencegahan dan penyuluhan ke masyarakat. Selanjutnya, dilakukan pula respons medik, yakni mencari sekaligus mengobati kasus HIV yang ditemukan.

“Lebih berbahaya orang yang terkena HIV ketimbang AIDS,” tukas Yurnanto. Ia lalu menjelaskan perbedaan fisik penderita HIV dengan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Sepintas, kondisi penderita HIV hampir sama dengan orang sehat lainnya. Sulit dibedakan. Namun mudah mengetahui ciri-ciri penderita AIDS. Misalnya, cukup melihat wajahnya yang biasanya pucat dan lesu, serta badan kurus tergerogoti kekurangan imun. HIV merupakan penyebab dasar AIDS.

“Karena orang yang HIV masih kelihatan cantik dan ganteng. Tapi yang AIDS, kurus kerempeng,” kelakar Sekretaris KPA Pusat Nafsiah Mboi. Terkait penderita HIV yang mencapai 1.200 kasus, Yurnanto memprediksi raihan angka tersebut bisa jadi dipengaruhi kinerja pencari dan konselor HIV yang gencar menemukan orang-orang terinfeksi HIV. “Temuan kasusnya meningkat mungkin lantaran case finding bekerja efektif,” kata Yurnanto, sembari menyebut yang mendanai para pencari HIV adalah Global Fund, lembaga donor dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan anda berkomentar dengan sopan